Minggu, 01 Juli 2012

soal orientalisme


1.      Apa pengertian orientalisme?
2.      Apa dan siapa orientalisme ?
3.      Apa sebab – sebab munculnya orientalisme?
4.      Apa ruang lingkup orientalisme ?
5.      Bagaimana sikap dan kewajiban kita selaku orang  muslim terhadap orientalisme?
JAWAB
1.      Orientalisme adalah istilah yang merujuk pada peniruan atau penggambaran unsur-unsur budaya Timur di Barat oleh para penulis, desainer, dan seniman.

2.      Orientalisme dalam Kamus Bahasa Indonesia adalah ilmu pengetahuan tentang ketimuran atau tentang budaya ketimuran. Sementara itu dalam buku “Buhûst Fi at Tabsyîr Wa al Istisyrâq” (Pembahasan Tentang Misionarime dan Orientalisme) karangan Dr. Hasan Abdur Rauf, disebutkan bahwa kata ‘Orientalisme’ secara umum diberikan kepada orang-orang non-Arab yang mempelajari ilmu-ilmu tentang ketimuran, baik itu dari segi bahasa, agama, sejarah, dan adat istiadatnya. Orang yang mempelajari ilmu itu disebut Orientalis. Khususnya orang-orang yang mempelajari tentang dunia Arab, China, Persia dan India. Dari pemaknaan di atas mungkin akan timbul pertanyaan, apakah orang Indonesia yang mempelajari tentang ketimuran bisa disebut Orientalis? Dosen Fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar itu buru-buru membatasi, bahwa sebutan Orientalis diberikan kepada setiap ilmuwan Barat yang mempelajari segala sesuatu tentang ketimuran. Utamanya, istilah Orientalis diberikan kepada orang-orang Nasrani yang ingin mempelajari ilmu-ilmu Islam dan bahasa Arab

3.      Ada banyak hal yang menjadi penyebab lahirnya Orientalisme menurut para peneliti kajian ketimuran. Tetapi penting untuk kita ketahui apa sebab-sebab utama dan faktor pendukung munculnya Orientalisme.
A. Perang Agama
B. Kolonialisme
C. Politik
D. Ekonomi
E. Sumber Ilmu
4. Ruang lingkup yaitu: “hal-hal yang menyangkut bangsa-bangsa di dunia Timur beserta lingkungannya”, sehingga meliputi seluruh bidang kehidupan dan sejarah bangsa-bangsa di dunia Timur. Sekedar ilustrasi dapat dibayangkan kegiana penyelidikan tersebut secara garis besar pada berbagai bidang, yaitu bidang kepurbakalaan (archeology), sejarah (history), bahasa (lingusitics), agama (religion), kesusateraan (literatures), keturunan (ethnology), adat istiadat (customs), kekuasaan (politik), kehidupan (ekonomi), lingkungan (fauna dan flora), dan lain-lain.
5. Pertama, adanya sekeolompok ulama, pemikir dan peneliti yang spesialisasi pekerjaannya adalah menulis tentang tema-tema ilmiyah, kemudian mempersembahkannya untuk umat Islam secara keseluruhan. Dengan perspektif dan sudut pandang yang sesuai dengan ajaran Islam
Kedua, hendaknya karya ilmiah ini benar-benar memenuhi syarat-syarat karya ilmiah dan jauh dari kesalahan. Mulai dari segi kebenaran tulisan, pengkajian yang luas dan analisa yang dalam. Serta tepat dengan sumber-sumber referensi yang menjadi rujukannya.
Ketiga, ulama, pemikir dan peneliti tadi hendaknya mempublikasikan karya-karya Orientalis dan memberikan kritikan secara ilmiah. Kemudian memberikan penjelasan kepada pelajar, mahasiswa atau masyarakat tentang kebatilan dan kesalahan-kesalahan berpikir para Orientalis dengan tetap bersikap obyektif dan tawadhu’.
Keempat, bagi lembaga-lembaga dakwah atau kajian ilmiah menerbitkan majalah-majalah yang berkaitan tentang Orientalisme dan Oksidentalisme (kajian tentang Barat) untuk menyeimbangi media-media Barat yang mendeskreditkan Islam.
Kelima, upaya pemurnian kembali tentang Turâst (peninggalan) Islam dan pengetahuannya dari berbagai syubhat. Terutama kajian tafsir Qur’an yang mulai terdistorsi oleh pemikiran dan metodologi Hermeunetika yang berasal dari Barat.
Kelima sikap dan kewajiban ini merupakan tanggung jawab kita selaku Muslim dan kita hendaknya selalu berdoa ada banyak jiwa-jiwa yang tergerak untuk selalu meninggikan agama ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar